SEJARAH asal-usul LONCENG GEREJA GMIM GETSEMANI TEEP dan alat perjamuan; lonceng dan alat perjamuan diambil dari Tondano oleh ke 4 orang melalui petunjuk mimpi..menurut cerita waktu itu mereka berempat mendapat mimpi.dengan pertanda burung walak kalau burung walak berbunyi sekali berarti pertanda tidak baik tapi kalau berbunyi tiga kali berarti pertanda baik..dan kamar yang harus dipilih harus nomor enam.)maka berangkatlah mereka berempat dengan bekal seadanya jagung goreng dan ubi rebus,dengan berjalan kaki melewati kakas, urongo sampai ke tondano.maka tibalah mereka di tondano.mereka berempat disuruh memilih kamar 1-6 dimana hanya dua kamar yang terdapat lonceng gereja.karna sudah mendapat mimpi.maka mereka memilih kamar no.6.maka didapatnyalah lonceng tersebut.
Dari ke 4 orang tersebut:
3 orang diantaranya bermarga semual dan 1 bermarga Rorong
1.HERMANUS SEMUAL
2.HENOS SEMUAL
3.PILEP SEMUAL
4.ZET RORONG
yang pasti ke 4 orang ini adalah orang yang berjiwa besar (pemberani) dan memiliki semangat pelayanan yang luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan mereka memboyong lonceng dan alat-alat perjamuan ke Jemaat Teep. Tanggung jawab penuh benar-benar mereka tunjukkan. Berapa lamanya perjalanan yang ditempuh oleh ke 4 orang tersebut disaat pengambilan lonceng yang beratnya 250 kg.Serta alat-alat perjamuan yang terdiri dari piring, Cangkir
belum dapat dipastikan demikian halnya dengan waktu pengambilannya tapi bisa diprediksi kira-kira tahun 1930. Tahun 1942 terjadilah perang yang aan dengan itu berakhirlah juga dikenal dengan
jabatan Bapak W. Koyongian sebagai Guru Jemaat yang diganti oleh Bapak Welem Laluyan. Di masa ini muncul sekte-sekte /golongan-golongan yang memperkenalkan aliran karismatik. Kehadiran sekte/golongan-golongan tersebut sungguh membawa dampak dalam kehidupan berjemaat waktu itu. Apalagi dengan maraknya KKR yang dilakukan oleh mereka. Disaat itupun telah terjadi pergeseran termasuk juga kedudukan Guru Jemaat dalam hal ini kepemimpinan Bapak W. Lalujan dilanjutkan oleh Bapak Harmen Rondonuwu (1945-1948). Pada masa kepemimpinan H. Rondonuwu seorang Pendeta yakni Pendeta Kairupan datang melayani di Jemaat Teep. Tapi beliau bukan hanya melayani di Jemaat Teep akan tetapi di Jemaat-jemaat lain seperti: Simbel, Touliang dan Bukittinggi. Beliau menjalankan tugas pelayanan dari tahun 1945-1949. Di tahun yang sama Guru Jemaat diganti oleh George Lalujan yang juga sebagai Kepala Sekolah.
Tahun 1949 Guru Jemaat diganti oleh Bapak Filipus Rewah. Dalam masa pelayanan ini Jemaat Teep yang tadinya termasuk dalam teritorial pelayanan klasis Kakas beralih kelingkaran (catatan: sekarang disebut wilayah) tahun yang sama terjadi pergolakan atau dengan kata lain bangkitnya revolusi, dimana terjadi pertikaian antara Pusat dan Permesta. Situasi kondisi jemaat waktu itu terancam demikian juga dengan pelayan yang mengalami tantangan dari dalam maupun dari luar. Akan tetapi pelayanan tetap jalan.
Selama + 49 tahun. Gedung Gereja di Teep hanya berjumlah 2 yaitu GMIM dan Romus Katolik. Namun pada tahun 1950 muncullah Gereja-gereja baru seperti Maranata, Pantekosta, Bahtra. Adapun anggota-anggota jemaat kebanyakan berasal dari GMIM. Pindahnya anggota jemaat GMIM ke gereja-gereja yang lain memiliki latar belakang yang berbeda diantaranya karena terjadi saling tuding-menuding/saling menuduh antara keluarga satu dengan yang lain dalam hal santer, terjadinya kesalah-pahaman antara anggota jemaat dan pelayan, masuknya pandangan-pandangan dan ajaran-ajaran baru dari aliran-aliran yang menamakan aliran karismatik, bahkan banyak orang yang pindah Gereja karena pemikahan (Pemuda GMIM menikah dengan Pemuda golongan gereja lain), Bahkan juga karena kurangnya pendekatan (pengembalaan) oleh pelayan. Dengan melihat
menonjol maka dapatlah dikatakan pemicu utama yaitu belum dewasanya warga jemaat dalam iman atau kurangnya pemahaman warga jemaat tentang Dogma dan Credo yang dianut oleh GMIM sehingga dengan masuknya ajaran-ajaran baru yang notabene memojokkan GMIM membuat kebanyakan warga GMIM tidak segan-segan beralih Gereja. Kenyataan ini sungguh merupakan pergumulan berat yang dialami oleh GMIM. Kondisi GMIM begitu memprihatinkan tapi Roh Kudus tetap bekerja dan mengijinkan GMIM untuk ada dan terus berjuang mempertahankan keberadaannya. Hal ini tentunya sangat menuntut kerja keras dan eksra (tambahan) dari para pelayan untuk memiliki semangat juang yang besar dalam menghadapi situasi sulit yang dapat dikatakan sebagai ujian iman bahkan pengasahan iman. Tak dapat terbayangkan perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu, tak terlukiskan pengorbanan yang mereka lakukan. Dan tentunya tantangan, pergumulan pelayan GMIM tidak hanya berhenti sampai pada masa itu tetapi berkesinambungan dan terus menerus dari masa pelayanan selanjutnya baik dari dalam GMIM itu sendiri maupun dari luar.
Tahun 1966 kepemimpinan Bapak Filipus Rewah sebagai Guru Jemaat diganti oleh Bapak Hendrik Wurangian. Sampai pada tahun 1970 gedung Gereja masih semi permanen yang berukuran 19x14 m tetapi di masa kepemimpinannya gedung Gereja dibangun kembali dengan ukuran 10x14 m (permanen) pembangunan ini selesai pada tahun 1976. Dengan selesainya pembangunan Gereja tersebut maka para pelayan (majelis) waktu itu bersepakat untuk memberi nama yang cocok untuk gedung Gereja. Dalam penetapan nama maka muncul 2 nama yaitu Imanuel dan Getsemani. Pemberian nama ini sempat menimbulkan ketegangan. Dari ke 2 nama yang dicalonkan maka suara terbanyak adalah Getsemani. Penetapan nama ini memiliki dasar Alkitabiah yang dihubungkan dengan asal-usul masyarakat Teep. Berdasarkan sudut pandang Alkitab kata Getsemani menunjuk pada suatu tempat yang dipilih Tuhan Yesus untuk berdoa dengan suasana yang aman dan damai. Sedangkan hubungannya dengan asal-usul masyarakat Teep dimana mereka datang dari kota ke perkebunan yang merupakan tempat sunyi, tenang dan aman untuk melangsungkan hidup.
Tahun 1985 Bapak Hendrik Wurangian mengakhiri jabatannya sebagai
menonjol maka dapatlah dikatakan pemicu utama yaitu belum dewasanya warga jemaat dalam iman atau kurangnya pemahaman warga jemaat tentang Dogma dan Credo yang dianut oleh GMIM sehingga dengan masuknya ajaran-ajaran baru yang notabene memojokkan GMIM membuat kebanyakan warga GMIM tidak segan-segan beralih Gereja. Kenyataan ini sungguh merupakan pergumulan berat yang dialami oleh GMIM. Kondisi GMIM begitu memprihatinkan tapi Roh Kudus tetap bekerja dan mengijinkan GMIM untuk ada dan terus berjuang mempertahankan keberadaannya. Hal ini tentunya sangat menuntut kerja keras dan eksra (tambahan) dari para pelayan untuk memiliki semangat juang yang besar dalam menghadapi situasi sulit yang dapat dikatakan sebagai ujian iman bahkan pengasahan iman. Tak dapat terbayangkan perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu, tak terlukiskan pengorbanan yang mereka lakukan. Dan tentunya tantangan, pergumulan pelayan GMIM tidak hanya berhenti sampai pada masa itu tetapi berkesinambungan dan terus menerus dari masa pelayanan selanjutnya baik dari dalam GMIM itu sendiri maupun dari luar.
Tahun 1966 kepemimpinan Bapak Filipus Rewah sebagai Guru Jemaat diganti oleh Bapak Hendrik Wurangian. Sampai pada tahun 1970 gedung Gereja masih semi permanen yang berukuran 19x14 m memakai kayu tada atau (kayu kinupas)tetapi di masa kepemimpinannya gedung Gereja dibangun kembali dengan ukuran 10x14 m (permanen) pembangunan ini selesai pada tahun 1976. Dengan selesainya pembangunan Gereja tersebut maka para pelayan (majelis) waktu itu bersepakat untuk memberi nama yang cocok untuk gedung Gereja. Dalam penetapan nama maka muncul 2 nama yaitu Imanuel dan Getsemani. Pemberian nama ini sempat menimbulkan ketegangan. Dari ke 2 nama yang dicalonkan maka suara terbanyak adalah Getsemani. Penetapan nama ini memiliki dasar Alkitabiah yang dihubungkan dengan asal-usul masyarakat Teep. Berdasarkan sudut pandang Alkitab kata Getsemani menunjuk pada suatu tempat yang dipilih Tuhan Yesus untuk berdoa dengan suasana yang aman dan damai. Sedangkan hubungannya dengan asal-usul masyarakat Teep dimana mereka datang dari kota ke perkebunan yang merupakan tempat sunyi, tenang dan aman untuk melangsungkan hidup.
Tahun 1985 Bapak Hendrik Wurangian mengakhiri jabatannya sebagai ketua jemaat..
penyebutannya bukan lagi sebagai Guru Jemaat melainkan Ketua Jemaat. Masa pelayanan Bapak Welli Rewah pembangunan konsistori dimulai, namun sangat disayangkan masa pelayanan Bapak Weliam Rewah sangat singkat hanya 4 bulan kemudian beliau meninggal. Oleh karena Wakil Ketua Jemaat pada waktu itu Syamas Bapak Ventje Rorong maka beliaulah yang mengisi lowong pelayanan almarhum Welli Rewah sampai pada tahun 1989. Disaat Bapak Ventje Rorong menjabat Ketua Jemaat pembangunan gedung Gereja kali ke 4 mulai direncanakan yakni pembangunan dengan ukuran 14x28 m (permanen). Adapun target penyelesaian pembangunan tersebut direncanakan 10 tahun dengan pembagian beberapa tahap kerja. Model bangunan dibuat oleh seorang arsitektur dari Manado tapi beliau berasal dari Desa Teep yakni Bapak Kolce Rorong.
Pembangunan tahap pertama sampai tahap keenam mulai dilakukan dengan pembentukan panitia sebagai Ketua: Bapak Ventje Rorong, Sekretaris: Bapak Yantje Tering, dan Bendahara: Bapak Noldi Mongkol. Tahap berikutnya terbentuk komisi pembangunan sesuai dengan periode pelayanan dan panitia tahunan sementara. Perletakan batu pertama untuk pembangunan Gedung Gereja dengan ukuran 14x8 m, dilakukan pada tanggal 30 November 1987. Sebagai pemimpin ibadah perletakan batu pertama yakni Pendeta dari Sinode yaitu Pdt. Tampemawa.
Pada tahun 1989 bulan September, Badan Pekerja Sinode (BPS) menugaskan Seorang Vikaris Pendeta untuk membantu pelayanan. Beliau adalah Nn. Deiske. Ellen. Robot, S.Th. Di waktu Vikaris Pendeta D.E. Robot, S.Th datang di Jemaat Teep, Jemaat Teep belum memiliki
Pastori sehingga dipinjamlah ruriah untuk dijadikan Pastori sementara sebagai tempat tinggal Vikaris Pendeta D.E. Robot, S.Th, dan keluarga yang bersedia menjadikan rumahnya sebagai Pastori yaitu Kel. Koyongian-Tuju (Ernest). Pada bulan Desember 1989, Vic.Pdt. D.E. Robot, S.Th diteguhkan menjadi Pendeta dengan dihadiri oleh beberapa Pendeta untuk penumpangan tangan termasuk utusan dari Badan Pekerja Sinode. Setelah diteguhkan sebagai Pendeța maka Pdt. D. E. Robot, Ş.Th menjadi Ketua Jemaat dan tetap menjalankan tugas pelayanan dengan berbagai kegiatan, diantaranya kegiatan pengumpulan dana untuk kelanjutan Pembangunan Gedung Gereja yang sementara dilaksanakan. Di sementara tugas pelayanannya, Pdt. D.E. Robot, S.Th menikah dengan dibiayai oleh Jemaat. Adapun rumah Pastori tetap.
belum ada sehingga masih meminjam rumah anggota jemaat dan untuk rumah kedua yang dijadikan Pastori sementara yaitu rumah dari Kel. Engka-Lalujan (Bernat). Masa pelayanan Pdt. D.E. Robot, S.Th sebagai Ketua Jemaat berakhir pada tahun 1994, dikarenakan oleh penetapan peraturan Badan Pekerja Sinode dimana akan selalu diadakan pergantian Pendeta di semua Jemaat GMIM sesuai pengaturan dari Badan Pekerja Sinode.
Tanggal 1 November 1994, sesuai dengan Surat Keputusan Badan Pekerja Sinode Jemaat Teep ditugaskan Seorang Pendeta (Pdt. G. Porong, S.Th) untuk menggantikan Pdt. D. E. Robot, S.Th yang juga beralih tugas di Jemaat lain (Jemaat Kamanga). Acara Pisah-Sambut Pendeta, dilakukan dengan baik oleh Jemaat. Ketika Pdt. G. Porong, S.Th beserta keluarga datang di Jemaat Teep, belum juga tersedia Pastori tetap dan pada waktu itu Kel. Pdt. G. Porong. S.Th tinggal dirumahnya Kel. Engka-Lalujan (Bernat) dan selang waktu kemudian pindah dirumahnya Kel. Koyongian-Tuju (Ernest). Dalam masa pelayanan Pdt. G. Porong, S.Th, pembangunan Gedung Gereja masih terus dilakukan, termasuk di dalamnya usaha untuk pengadaan Pastori. Berdasarkan Keputusan Sidang Majelis Jemaat maka dibelilah sebidang tanah milik Kel. Hendrik. Lalujan-Engka untuk lokasi pembangunan Pastori. Pekerjaan pembangunan Pastori dilakukan/dimulai Tanggal... Tahun. dan ditahbiskan pada tanggal. oleh Pdt. G. Porong, S.Th. Jemaat Teep adalah kemitraan dari Jemaat Elim Malalayang. Salah satu bentuk kemitraan yang ditunjukkan oleh Jemaat Elim Malalayang di Jemaat Teep yakni menempatkan Vikaris Pendeta Sesca Ulag, S.Th dengan tanggungan dari Jemaat Elim Malalayang. Vic. Pdt. S. Ulag. S.Th memulai vikaris pada tahun 1995 dan diteguhkan sebagai Pendeta pada tahun 1996 di Jemaat Teep oleh Pdt. DR. R.A.D. Siwu, atas nama Badan Pekerja Sinode GMIM. Setelah Pdt. S. Ulag, S.Th diteguhkan, beliau pindah pelayanan di Jemaat GMIM Ratatotok. Di sementara Pdt. G. Porong. S.Th melayani di Jemaat Teep + 3 tahun, istrinya meninggal pada tanggal 07 Mei 1996, kemudian tanggal 10 Agustus 1997 beliau menikah dengan seorang Calon Pendeta (Nn. Winda. S. Weol, S.Th). Pemberkatan dilangsungkan di Jemaat Getsemani Teep dengan dibiayai oleh Jemaat. Tanggal 15 September 1998, Winda. S. Weol, S.Th ditetapkan oleh Badan Pekerja Sinode untuk bervikaris di Jemaat GMIM.
Getsemani Teep dan diteguhkan pada tanggal 30 September 1999 di Auditorium Bukit Inspirasi Tomohon bersamaan dengan perayaan HUT GMIM Bersinode tingkat Sinode. Berdasarkan Şurat Keputusan Badan Pekerja Sinode GMIM, tanggal 3 April 2001 masa pelayanan Pdt. G. Porong, S.Th sebagai Ketua Jemaat di GMIM Getsemani Teep berakhir dan pindah ke Jemaat Ritey Wilayah Tumpaan. Dalam masa pelayanan Pdt. G. Porong, S.Th, pengadaan Pastori terealisasi dan untuk pertama kalinya didiami oleh Kel. Pdt. G. Porong, S.Th. Pengumpulan dana untuk pembangunan terus dilakukan dan pada waktu itu para pekerja tambang emas di Toli-Toli yang terdiri dari gabungan anggota Jemaat Teep dan Jemaat Kauneran Sonder memberikan sumbangan untuk pembanguan di Jemaat Teep. Bentuk bantuan-bantuan yang ada ialah pengadaan Sound System, Kursi dan pelunasan Kintal Sekolah. Adapun lokasi Kintal Sekolah berada di Sebelah Utara Desa Teep yang agak berjauhan dengan Gedung Gereja GMIM Getsemani Teep (Catatan: Tanah dari Ibu.Jd. Lumintang Manopo). Pengadaan Kintal Sekolah diusahakan oleh Komisi Sekolah dan semua Majelis Jemaat dengan tunjangan oleh semua warga GMIM Getsemani Teep.
Tanggal 22 Juli 2001, diadakanlah Serah-Terima pelayanan Pdt. G. Porong, S.Th kepada Pdt. Nortje. Kasiha-Kodoati, S.Th sebagai Pendeta Jemaat sekaligus Ketua Jemaat. Di saat Pdt. N. Kasiha-Kodoati, S.Th datang melayani, pembangunan Gedung Gereja belum selesai sehingga dalam pelayanannya usaha untuk pengumpulan dana terus diusahakan dan langsung dikelola.
Setelah Pdt. G. Porong, S.Th berakhir masa tugasnya di Jemaat Getsemani Teep, maka Pelayanan di Jemaat dilanjutkan oleh Pdt. Ny. N. Kasiha Kodoati, S.Th berdasarkan Surat Keputusan Badan Pekerja Sinode tertanggal 1 April 2001. Serah-Terima antara Pdt. G.Porong, S.Th kepada Pdt. N. Kasiha Kodoati, S.Th dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2001, tanggal 7 Agustus 2001 Pendeta dan keluarga menetap di Jemaat dan mulai dengan tanggung jawabnya sebagai Pendeta sekaligus Ketua Jemaat. Dalam rentangan waktu 12 bulan kemudian melalui Surat Keputusan Badan Pekerja Sinode ditempatkanlah Vikaris Pendeta di Jemaat untuk membantu Pelayanan Jemaat. Vikaris Pendeta yang ditempatkan yaitu Vic.Pdt. L.Emor Waladow, S.Th dengan Surat Keputusan penugasan Agustus 2001 dan secara resmi menjalankan pelayanan pada tanggalVikaris Pendeta + .....Oktober 2001. Vic.Pdt. L. Emor Waladow, S.Th bertempat tinggal pada keluarga Ibu.Jd. N. Lukow Memah (Almarhuma). Masa pelayanan sebagai Tahun kemudian pada tanggal .......bulan..............tahun......... diteguhkan sebagai Pendeta yang dihadiri oleh Pendeta-pendeta se-Wilayah Langowan Satu, termasuk dari Badan Pekerja Sinode yakni Pdt. Dr. A.F. Parengkuan, M.Teol. Setelah beliau diteguhkan sebagai Pendeta tetap melayani di Jemaat sebagai Pendeta Pelayanan (Pendeta Jemaat). Ketika Pdt. N. Kasiha Kodoati, S.Th datang melayani, pembangunan gereja belum selesai sehingga dalam pelayanannya usaha untuk pengumpulan dana terus diupayakan. Adapun usaha-usaha yang dilakukan oleh Panitia Pembangunan seperti kantin pembangunan yang sudah dilaksanakan sejak pelayanan sebelumnya. Namun usaha ini dihentikan oleh karena berbagai alasan diantaranya ada masukan-masukan dari anggota Jemaat sudah merasa malu karena pengumpulan dana lewat kantin sudah terlalu lama dilaksanakan. Akan tetapi pembangunan harus terus berlangsung. Cara lain yang ditempuh demi kelangsungan pembangunan yakni dengan memberi target kepada setiap Kepala Keluarga yang ditangani oleh Komisi Pembangunan. Setiap dana yang terkumpul direalisasikan ke pembangunan gedung gereja. Dari waktu ke waktu pembangunan terus berlangsung walaupun banyak kendala, hambatan yang menyebabkan pembangunan memakan waktu cukup lama dalam penyelesaiannya. Atas kesepakatan bersama Pelayan dan anggota Jemaat maka tanggal 12 Desember 2005, Gedung Gereja diresmikan walaupun belum 100% selesai. Untuk sementara waktu sasaran pembangunan lebih difokuskan pada pembangunan Pastori, yang bukan lagi dibangun di lokasi Pastori yang pertama, tetapi dipindahkan di samping gereja yang tadinya kintal dari Kel. Engka Sumual (diadakan pertukaran) yang sekarang menjadi lokasi Pastori. Adapun Pastori sampai sekarang masih dalam penyelesaian. Namun, sudah ditempati oleh keluarga Pendeta.
Berdasarkan peraturan Tata Gereja GMIM, dimana masa pelayanan para Pendeta tidak berlangsung secara terus-menerus akan tetapi diadakan roling sesuai pengaturan (mutasi) Badan Pekerja Sinode. Dan untuk Pdt. N. Kasiha Kodoati, S.Th, sesuai Surat Keputusan Pemutasian tertanggal | Juli 2007 dimutasikan keJemaat GMIM Urongo Wilayah Tondano III, demikian halnya dengan Pdt. L. Emor Waladow, M.Teol yang dimutasikan ke Jemaat GMIM ...........Toraget Wilayah Langowan Dua.
PENDIDIKAN SEBAGAI WAHANA PENGINJILAN
Sektor pendidikan adalah wahana untuk mempercepat proses penginjilan di Minahasa pada umumnya dan khususnya di Jemaat Teep. Hal ini merupakan salah satu buah pikir dari para Misionaris/Penginjil yang datang di Tanah Minahasa. Dalam pemahaman mereka syarat utama yang harus dicapai dalam penginjilan adalah penduduk Minahasa harus terdidik. Oleh karena itu di saat para Penginjil melaksanakan pelayanan di Jemaat Teep, mereka juga melakukan pengajaran. Teyde dan Hangtfelt adalah Misionaris yang datang di Jemaat Teep sebagai pengajar. Adapun penyebutan sekolah pada waktu itu yakni Zending School. Lokasi Zending School mula-mula adalah Gedung Gereja. Di masa itu bidang pendidikan begitu erat hubungannya dengan Gereja sehingga siapa yang terpilih sebagai Guru Jemaat maka beliaulah yang memegang jabatan sebagai Kepala Sekolah. Proses ini berlangsung ketika Gereja di Minahasa belum bersinode masih dalam penyebutan GPI (Gereja Protestan Indonesia). Namun pada tanggal 30 September 1934, Gereja Protestan di Minahasa menjadi Gereja yang bersinode dan menjadi GMIM. Setelah GMIM mulai menata, mengatur dirinya sendiri dengan baik, GMIM mulai mendirikan Sekolah-sekolah termasuk SD GMIM Teep, untuk itu SD GMIM Teep berada di bawah asuhan GMIM Getsemani Teep sesuai ketentuan Yayasan Persekolahan GMIM. Akan tetapi gaji untuk guru-guru yang ada sudah tidak menjadi tanggungan Gereja melainkan Pemerintah karena guru yang mengajar adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil) (Catatan: nama-nama tertulis dalam penjelasan selanjutnya).
Pada tanggal 20 Juni 1983, Kepala Dinas Pendidikan dan Persekolahan GMIM memutuskan dan menetapkan untuk mendirikan/membuka Taman Kanak-kanak (TK) GMIM di jemaat Teep, kemudian menunjuk Majelis Jemaat GMIM Teep dalam hal ini Komisi Pelayanan Khusus Wanita Kaum Ibu jemaat GMIM Teep sebagai pengelola/penyelenggara TK yang dalam hal ini langsung bertanggung jawab kepada Dinas Pendidikan dan Persekolahan GMIM. Dengan ketentuan biaya penyelenggaraannya TK termasuk gaji bagi guru-guru dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Jemaat GMIM Teep. Ketika TK mulai berjalan, belum tersedia gedung sebagai tempat belajar, untuk itu
Konsistori digunakan sebagai kelas dalam proses belajar-mengajar. Dalam perkembangan selanjutnya SD GMIM Teep sebagai Sekolah swasta di bawah asuhan GMIM Teep membutuhkan bantuan tenaga pendidik sehingga ditetapkanlah oleh KP2 (Komisi Pendidikan dan Persekolahan) Teep menugaskan tenaga pengajar yaitu Pdt. L. Emor Waladow sebagai guru Agama, Vincent Saisab sebagai guru bahasa Inggris (catatan: sekarang tidak lagi), dan Amenesti Tuju.
STRUKTUR PENDIDIKAN TAHUN 1910-2007
Nama-nama Kepala Sekolah:
1. Cornelius Geraldus Tangkulung
2. Arnol Kuhu
3. Welliam Kojongian
4. George Lalujan
5. Rawung
6. Rewah
7. Aruperes
8. Yopi Mandas
9. Yorry Waladow
10. Bernad Lalujan
11. Handrie Tulangow
12. Pit Maleke
13. Adri Tulangow
14. Elsye Karepowan (sebagai PLH: Pelaksana Harian)
Nama-nama Guru SD:
1. Zam Kuhu, 2. Minder Lumintang, 3. Minder Lalujan, 4. An Nangoy, 5. Like
Sambur, 6. Agu Tangkulung, 7. Yantje Embram, 8. Nes Embram, 9. Herni Suoth,
10. Nelly Lumintang, 11. Yosefina Bokko, 12. Mindert Aruperes, 13. Wem
Karepowan, 14. Fitje Lumintang, 15. Notje Lalujan, 16. Meifi Raturandang. 17.
Sesye Lukow, 18. Fitje Manaroinsong, 19. S. Tunas, 20. Yoner Panambunan, 21.
Anekke Saisab, 22, Dance Tangkulung, 23. Jein Lalmentik.
Nama-nama Guru Taman Kanak-Kanak:
1. Elke Gerungan, 2. Heise Lalamentik, 3. Altje Languju, 4. Yelly Engka, 5. Ferra
Mandas.
Tenaga Pengajar Sukarela yang ditugaskan oleh Gereja:
1. Pdt. L. Waladow, M.Teol (Cat. Digaji oleh Jemaat)
2. Amenesti Tuju (Cat. Digaji oleh Jemaat)
3. Vincent Saisab (Cat. Digaji oleh Pdt. N. Kasiha Kodoati, S.Th)
STRUKTUR PELAYAN DARI TAHUN 1910-2007
Guru Jemaat 1. Cornelius Geraldus Tangkulung (1910-1920)
Pelayan:
Guru Jemaat
II. Arnold Kuhu (1921-1931/1921-1934)
Pelayan:
Guru Jemaat
III. Welliam Kojongian (1932-1935)
Pelayan:
Guru Jemaat
IV. Welem Lalujan (1942-1945)
Pelayan: Hendrik Wurangian
Ruben Lalujan
Remen Rondonuwu
Ridd Rorong
Guru Jemaat
V. Harmen Rondonuwu (1945-1948)
Pelayan:
Guru Jemaat
VI. Filipus Rewah (1949-1966)
Pelayan:
Pnt. Darius Lalujan
Pnt. Hans Wurangian
Syamased. Alex Rewah
Svamased, Ron Kevongian
Guru Jemaat VII. Hendrik Wurangian (1966-1985)
Pelayan-pelayan Tahun 1966-1981
Kolom 1: Pnt. Andrias Wurangian Sym. Welly Rondonuwu
Kolom 2: Pnt. Arnol Koyongian Sym. Alex Rewah
Kolom 3: Pnt. Deker Tuju
Sym. Yantje Tering
Kolom 4: Pnt. Welliam Rewah
Sym. Yus Engka
Pria Kaum Bapa
: Marten. Watuseke
Wanita Kaum Ibu
Kaum Ibu Imanuel Muda
: An. Lumingkewas
Pemuda
:Anarut Lumintang
Anak-anak
Frans Lumingkewas
: Nelly. Lumintang
Pelayan-pelayan Tahun 1982-1986
Kolom 1: Pnt. Andrias Wurangian
Sym. Nes Koyongian
Kolom 2: Pnt. Hendrik Lalujan
Sym. Oskar Watuseke
Kolom 3: Pnt. Deker Tuju
Sym. Yantje Tering
Kolom 4: Pnt. Welly Rewah
Sym. Yus Engka
VIII. Periode Pelayanan Tahun 1986-1990 Ketua Jemaat: Welly Rewah (4-6 bulan masa pelayanan) kemudian dilanjutkan oleh Sym. Ventje Rorong.
Kolom 1: Pnt. Hendrik Mongkol (Dedy)
Sym. Hein Wurangian
Kolom 2: Pnt. Frans Watuseke
Sym. Yus Engka
Kolom 3: Pnt. Yonni Lumintang
Sym. Frans Tuju
Kolom 4: Pnt. Welly Tering
Sym. Ventje Rorong
Kolom 5: Pnt. Welly Rondonuwu
Sym. Ernes Koyongian
Pria Kaum Bapa
: Hendrik Wurangian
Wanita Kaum Ibu
:Yenni Lumingkewas
Pemuda
: Ruddy Lukow
Remaja
: Aike Tering
Sekolah Minggu
: Ventje Rorong
IX. Periode Pelayanan Tahun 1991-1995 (Ketua Jemaat: Pdt. D. Robot, S.Th)
Kolom 1: Pnt. Welly Rondonuwu
Sym. Nes Koyongian
Kolom 2: Pnt. Oskar Watuseke
Sym. Welly Tering
Kolom 3: Pnt. Frans Tuju
Sym. Yonni Lumintang
Kolom 4: Pnt. Yus Engka
Sym. Frans Watuseke
Kolom 5: Pnt. Hendrik Mongkol
Sym. Hein Wurangian
Pria Kaum Baра
: Hendrik Wurangian
Wanita Kaum Ibu
: Yenni Lumingkewas
Pemuda
: Ruddy Lukow
Remaja
: Aike Tering
Sekolah Minggu
: Ventje Rorong
X. Periode Pelayanan Tahun 1995-1999 (Ketua Jemaat: Pdt. G. Porong. S.Th)
Kolom 1: Pnt. Nofri Engka
Kolom 2: Pnt. Yus Engka
Sym. Yelli. Lumintang
Kolom 3: Pnt. Dolfi Wurangian
Sym. Yenni Lumingkewas
Kolom 4: Pnt. Frans Watuseke
Sym. Syane Ante
Kolom 5: Pnt. Frans Tuju
Sym. Welly Tering
Kolom 6: Pnt. Wempi Sumual
Sym. Adrie Rewah
Kolom 7: Pnt. Nes Koyongian
BIPRA:
Sym. Fitje Lumintang
4G
Pria Kaum Bapa
:Pnt. Jeri Watuseke
Wanita Kaum Ibu
:Pnt. Anekke Saisab
Pemuda
: Pnt. Reinhart Wurangian
Remaja
: Pnt. Aike Tering
Anak-anak
: Pnt. Rike Rorong
XI. Periode Pelayanan Tahun 1999-2004 (Ketua Jemaat: Pdt. G. Porong, S.Th)
Kolom 1:
Pnt. Hein Wurangian
Sym. Hendrik Mongkol
Kolom 2: Pnt. Yus Engka
Sym. Yeli. Lumintang
Kolom 3: Pnt. Dolfi Wurangian
Sym. Yenni Lumingkewas
Kolom 4:
Pnt. Frans Watuseke
Sym. Syane Ante
Kolom 5: Pnt. Frans Tuju
Sym. Welly Tering
Kolom 6: Pnt. Wempi Sumual
Kolom 7: Pnt. Ernes Koyongian
Sym. Fitje Lumintang
BIPRA:
Pria Kaum Bapa
: Pnt. Jeri Watuseke
Wanita Kaum Ibu :Pnt. Anekke Saisab
Pemuda
: Pnt. Johny Wurangian
Remaja
: Pnt. Aike Tering
Sekolah Minggu
: Pnt. Rike Rorong
XII. Periode pelayanan tahun 2004-2005
(Ketua Jemaat: Pdt. N. Kasiha Kodoati, S.Th)
Kolom 1: Pnt. Dolfi Wurangian
Sym. Yultje Saisab
Kolom 2: Pnt. Frans Watuseke
Sym. Yeni Lumingkewas
Kolom 3: Pnt. Yus Engka
Sym. Johny Wurangian
Kolom 4: Pnt. France Mongkol
Sym. Nelfi Wurangian
Kolom 5: Pnt. Zesie Wurangian
Sym. Yenni Mongkol
Kolom 6: Pnt. Elsye Engka
Sym. Nova Lalujan
Kolom 7: Pnt. Hein Sumual
Sym. Syane Ante
Kolom 8: Pnt. Tinneke Tuju
Sym. Wempie Sumual
Kolom 9: Pnt. Anekke Saisab
Sym. Pit. Rorong
Kolom 10: Pnt. Syane Wurangian
Sym Pitje Lumintang
BIPRA:
: Pnt. Ventje Rorong (2001-2002)
Pria Kaum Bapa
Pnt. Jefri Runtu (2002-2005)
Wanita Kaum Ibu : Pnt. Jerita Olongie
Pemuda
:Pnt. Reinhart Wurangian
Remaja
:Pnt. Jeri Watuseke
Anak Sekolah Minggu: Pnt. Rike Rorong
XIII. Ketua Jemaat Pdt. Nortje Kasiha Kodoati, S.Th (2005-2007)
Pendeta Pelayanan: Pdt. L. Emor Waladow, M. Teol
Periode Pelayanan Majelis Jemaat 2005-2009:
Kolom 1: Pnt. Fitje Lumintang
Sym. Abner Rewah
Kolom 2: Pnt. Syane Wurangian
Sym. Treisye Saisab
Kolom 3: Pnt. Anekke Saisab, A.Ma. PAK
Sym. Tinneke Tuju
Kolom 4: Pnt. Nova Lalujan
Sym. Reike Sumual
Kolom 5: Pnt. Jefri Runtu
Sym. Rita Wurangian
Kolom 6: Pnt. Jeri Watuseke
Sym. Marlein Wurangian
Kolom 7: Pnt. Dolfi Wurangian
Sym. Yultje Saisab
Kolom 8: Pnt. Johny Wurangian
Sym. Evi Sumual
Kolom 9: Pnt. Zesie Wurangian
Sym. Yenni Mongkol
Kolom 10: Pnt. France Mongkol
Sym. Nelfi Wurangian
BIPRA dan KETUA-KETUA KOMISI:
Pria Kaum Bapa
: Pnt. Amenesti Tuju
Wanita Kaum Ibu
: Pnt. Jerita Olongie, S.Pd
Pemuda
: Pnt. Alfindo Mongkol, SE.Ak
Remaja
: Pnt. Hentje Engka
Anak Sekolah Minggu
: Pnt. Dolfie Saisab, S.Pd
Tenaga Orientasi
Nn. Deisi Lalujan, S.Th
Tenaga Orientasi
: Nn. Sarini Manopo, M.Teol
BPPJ
: 1 bu. Rike Rorong
KPDP
: Bpk. Johan Naung
KP2
KPMG
: Bpk. Nofri Engka
: Bpk. Ruddy Lukow
Nama-nama Vikaris Pendeta:
1. Vic. Pdt. D.E. Robot, S.Th
2. Vic. Pdt. S. Ch. Ulag, S.Th
3. Vic. Pdt. W. S. Weol, S.Th
4. Vic. Pdt. L. Waladow, S.Th
Nama-nama Kostor:
1. Wellem Sumual
2. Aris Karisoh
3. Wellem Saisab
4. Robet Silom
5. Hans Wurangian
6. Gustaf Saisab
7. Yoseph Mongkol
8. Bernad Engka dan Defli Watuseke
9.Frangki Saisab
10.Joni Lumintang
11.Fernando Mongkol.
GEDUNG GEREJA GMIM GETSEMANI TEEP PERTAMA.didirikan dengan ukuran 9X6m, memakai kayu tada atau kayu kinupas.KEDUA ukuran 8x12m. KETIGA 10X12. KEEMPAT 14X28m.
SEDANGKAN MENJABAT KETUA JEMAAT WAKTU ITU SAMPAI SEKARANG:
I. marga KUHU 1910 mencakup kepala sekolah.
II. W .KOYONGIAN 1920-1925
III. W. LALUYAN 1930-1940
IV. marga RONDONUWU 1940-1945
V. E. REWAH 1950-1955
VI. H. WURANGIAN 1955-1985
VII. W. REWAH 1985-1988
VIII. V. RORONG 1986-1988
IX. Pdt. KILING ROBOT 1988-1994
X. Pdt. G. PORONG 1995-2000
XI. Pdt. KASIHA KODOWATI 2000-2005
XII. Pdt. V. RATU LUMOWA 2005-2010
XIII. Pdt. TURANGAN 2010-2015
VX. Pdt. M. LUMINTANG 2015-2019
XV. Pdt. J. TULANGOW 2019-2024
XVI.Pdt.NOVA RAU.EMOR 2024- SAMPAI-SEKARANG..
GURU AGAMA. MARTA MANTOW
PPL Sekitar tahun 70an.HEIN ARINA & MARTHEN KARUNDENG & YONER WOWILING & FERDINAN WAWORUNTU
Mantan Pelayan:PI 1994-1998
Bpk Ernes Watuseke
Bpk.Welly Laluyan
Bpk.Salem Rampi
Bpk.Johan Naung
Nama-nama Pendeta sebelum GMIM Bersinode
1. Pdt. Teyde berasal dari Barat
2. Pdt. Hangtfelt berasal dari Barat
versi: Alm.Bpk Welly Tering
GAMBARAN UMUM TENTANG MINAHASA DAN KEKRISTENAN DIMINAHASA
>KEMINAHASAAN
Minahasa adalah suatu nama yang dipakai untuk menunjukkan salah satu
daerah maupun suku di Sulawesi Utara. Minahasa terletak di bagian Utara
Sulawesi diantara 0º 51 dan 1º 510' 40" Lintang Utara dan antara 124º 18'40" dan
125º 21'30' Bujur Timur luasnya 5273 Km2 (F.S. Watuseke sedjarah Minahasa,
Manado 1968, hlm 9). Di bagian selatan Minahasa berbatasan dengan kabupaten
Bolaang-Mongondow sedangkan di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten
Sangihe-Talaud, di sebelah Barat terbentang laut Sulawesi dan di sebelah Timur
terbentang laut Maluku. Adapun ibukota Minahasa berkedudukan di Tondano.
Sebagian besar wilayah Minahasa adalah pegunungan dengan beberapa jumlah
gunung berapi seperti Lokon, Soputan dan Mahawu.
Dari segi etimologi, Minahasa berasal dari kata dasar "Esa" yang berarti
"Satu" dengan awalan "Mina" yang berarti "Menjadi" Mina-Esa berarti: Menjadi
Satu. Dengan mengalami perubahan bunyi Mina-Esa menjadi "Minahasa". (K.A.
Kapahang -Kaunang "Perempuan Pemahaman Teologis Tentang Perempuan
Dalam Konteks Budaya Minahasa". Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1993. hlm 1).
Nama Minahasa resmi dipakai sejak awal abad ke-19, tapi munculnya nama itu
oleh suku Minahasa pada abad ke-17 (Berts Supit, Minahasa dari Amanat
Watupinabetengan sampai gelora Minawanela, Jakarta: Sinar Harapan 1986
hlm.115). Adapun asal usul orang Minahasa tidak diketahui dengan jelas, beberapa
ahli sejarah mengemukakan bahwa orang Minahasa dekat dengan bangsa Jepang,
Tiongkok, atau dekat Mongoloid, bahkan ada yang mengatakan berasal dari Cina
Selatan. Jika dilihat dari sosok diri orang Minahasa maka khusus warna kulit yaitu
putih atau kuning langsat, mata cipit, rambut hitam, dan perawakan sedang (J.M
Saruan. Rangsangan Berteologi, Gereja dan Masyarakat 1930-1945). Bahasa yang
dikenal di Minahasa yakni Bahasa Tontemboan, Tonsea, Tondano, Tombulu,
Tonsawang, Pasan, Ponosakan dan Bantik dengan dialek masing-masing. Orang
artinya Manusia hidup untuk memanusiakan atau menghidupkan orang lain.
Semboyan tersebut oleh generasi sekarang dipercayai sebagai buah pikir dari
Gerungan Samuel, Saul, Yakob Ratulangi atau
Sam Ratulangi, salah seorang
tokoh/pahlawan Indonesia asal Sulawesi Utara. Warga masyarakat/warga gereja
yang ada di desa
Teep merupakan bagian dari Minahasa yang termasuk dalam
rumpun masyarakat dengan menggunakan bahasa Tontemboan.
KEKRISTENAN DI MINAHASA
Sejak abad ke-16 kekristenan di Minahasa telah dimulai pada saat orang-
misionaris yang berasal dari Portugis. Dalam usaha penginjilannya ia membaptis
dan mengkristenkan 1500 orang penduduk termasuk raja Manado dan raja Siau
pada tahun 1963 sesudah itu berturut-turut dikirim misionaris di Minahasa yakni
paderi mascarenhas tahun 1619, Blas Palomio tahun 1620, paderi Juan Jranzo dan
Lorenzo Garalla pada tahun 1644 berakhirlah kegiatan misi Katolik di Minahasa
akibat perang Spanyol dan Tombulu. Pada tahun 1657 Spanyol terpaksa angkat
kaki dari Minahasa (D.M. Lintong Apakah Engkau Mengasihi Aku, Sejarah
GMIM Jilid I. KDT. Tomohon 2004, hlm 3-4).
Sesudah Portugis dan Spanyol keluar dari Minahasa maka
VOC menguasai
Minahasa pada tahun 1602. VOC datang dengan membawa agama Protestan. VOC
mempunyai satu-satunya hak kedaulatan yang diharuskan untuk dipelihara dimana
bahwa pemerintah bertugas memelihara gereja yang kudus untuk melawan dan
memberantas segala agama palsu serta penyembahan berhala. Adapaun semboyan
menguasai suatu wilayah, ia menentukan agama yang dianut. (Ibid hlm 5).
Kedatangan VOC yang disertai juga dengan Pendeta-pendeta di Minahasa
membuahkan hasil karena pada tahun 1663 ternyata sebagian besar Manado sudah
Kristen. Tetapi pada tahun 1789-1817 jemaat-jemaat di Minahasa terbengkalai
karena VOC mengalami kesulitan. Namun demikian Gereja tidak musnah sama
sekali sebab sudah ada di 5 jemaat berdiri sendiri yaitu Manado, Likupang
Kemah, Tanawangko dan Amurang dengan 2 pos penginjilan yakni Tondano dan Langowan. Namun kemampuan untuk menjalankan tugas belum begitu nampak. Akan tetapi, pada waktu perkunjungan Joseph Kam tahun 1817 penginjilan berjalan kembali.
Tahun 1831, Badan Penginjilan Belanda (NZG) memulai kembali kekristenan di Minahasa dengan mengirim 2 utusan, Johan Frieehich Ridel dan Johan Gothieb Schwarz. Mereka berasal dari Jerman yang menginjil sampai akhir hayat mereka di Minahasa. Usaha penginjilan mereka berjalan lancar. Di Tondano Riedel mengalami gerakan masuk Kristen sudah sejak tahun 1834, sedangkan Schwarz di Langowan menunggu 12 tahun barulah terjadi perubahan besar dengan pekerjaan penginjilan yang intensif dan terus menerus maka dalam statistik tahun 1880 di Minahasa terdapat 80 ribu orang Kristen diantara 100 ribu penduduk. Ketika NZO mengalami kesulitan keuangan maka jemaat Kristen dikembalikan pada GPI untuk menggarapnya atau dengan kata lain jemaat Kristen di Minahasa ke dalam kerangka organisasi GPI.
GAMBARAN UMUM DESA TEEP
1. Asal Usul Nama dan Penduduk Desa Teep
Sampai pada tahun 1900-an, desa Teep beluri merupakan suatu perkampungan melainkan daerah perkebunan yang dinamakan "Rata". Adapun orang yang pertama kali berkebun di daerah ini dan tinggal menetap yaitu bapak Hermanus Sumual dan bapak Henos Sumual. Di tahun-tahun kemudian diikuti orang lain yang juga datang berkebun sekaligus bermukim di daerah tersebut.
Dengan bertambahnya orang-orang yang bermukim di perkebunan Ra'ta, digantikan nama perkebunan tersebut dengan nama desa Teep. Nama Teep dinamakan oleh Bapak Zeth Rorong sebagai ketua adat dengan staf-stafnya dan kedua pemimpin agama. Kata Teep diambil dari nama sebuah pohin besar yang tumbuh di perkebunan Ra'ta. Pohon tersebut memiliki 5 akar besar yakni 3 cabang memnghadap kesawah 2 cabang menghadap ke ladang.
2. Letak Wilayah
Dilihat dari letaknya desa Teep berdampingan dengan desa Simbel, namun demikian desa Simbel bukanlah se-Kecamatan ataupun se-Wilayah dengan desa Teep. Desa Simbel berada pada suatu wilayah hukum kabupaten Minahasa kecamatan Kakas yang secara geografis berada pada Lintang Utara: 0° 3'-1°1b Lintang Utara: 124°51°-125°05. Dengan luas wilayah 12,065 Ha dan beriklim tropis (monografi kecamatan Kakas 2006 hlm.3-4). Sedangkan desa Teep adalah desa yang berada pada satu wilayah hukum kabupaten Minahasa kecamatan Langowan, tepatnya Langowan Timur. Secara geografis luas kecamatan Langowan Timur adalah 13,70 Km², yang terletak di antara 1908-1909 Lintang Utara dan 120°68-120°86 Bujur Timur. Jumlah desa ada 10 dimana hamper semuanya memiliki topografi datar. Adapun daerah-daerah yang membatasi Langowan Timur yakni:
Sebelah Utara dengan Kecamatan Tompaso
Sebelah Timur dengan kecamatan Kakas
Sebelah Selatan dengan kecamatan Langowan Selatan
Sebelah Barat dengan kecamatan Langowan Barat dan Langowan Selatan
Sebagian besar daerah Wilayah Langowan beriklim tropis dan hanya mengenal dua musim yakni musim kemarau dan musim penghujan. Desa Teep merupakan salah satu dari 10 desa yang ada di kecamatan Langowan Timur dengan memiliki luas wilayah 2,01 Km² (14,67%) yang terdiri dari persawahan 70 hektar ladang 110 hektar dan perkebunan 4 hektar (statistik Desa Teep tahun 2005).
3. Faktor Sosial Budaya
Manusia adalah makhluk sosial, sebagai makhluk sosial dituntut untuk merealisasikan apa yang disebut "Kebersamaan" atau kata yang lebih akrab dengan ucapan orang Teep "Mapalus/Gotong-royong". Hal ini benar-benar disadari oleh warga masyarakat sebagai sesuatu yang begitu berarti dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja sehingga tidaklah berlebihan bila warga masyarakat dan atau warga jemaat Teep merupakan komunitas yang menunjung tinggi falsafah hidup orang Minahasa seperti yang diulas sebelumnya yakni Si Tou
Timou Tumou Tou. Terbukti dari apa yang diungkapkan oleh orang-orang yang dituakan, dimana bahasa dulu "Mapalus" begitu kentara dilakukan oleh orang-orang zaman mereka dengan orang-orang sebelum mereka bahkan mapalus itu begitu menonjol diberlakukan dalam hal bekerja di kebun. Contoh hari ini bekerja di kebun A dan setelah selesai di kebun A maka selanjutnya di kebun B, dan begitu seterusnya. Namun sangat disayangkan cara ini atau budaya tersebut hanya bisa bertahan dalam beberapa generasi saja, sebab di masa sekarang budaya ini sudah tak nampak lagi. Akan tetapi bukanlah berarti sifat Kebersamaan/Mapalus/Gotong-royong yang diterapkan oleh generasi-generasi terdahulu sudah hilang sama sekali dalam kehidupan orang-orang di desa Teep. Tidak demikian, sebab Mapalus/Gotong-royong/Kebersamaan bisa dilihat dalam bentuk lain yakni bagaimana orang-orang Teep begitu antusias membentuk kumpulan-kumpulan organisasi baik dalam masyarakat maupun dalam gereja. Hal tersebut merupakan wujud kebersamaan walaupun dalam kenyataan yang ada terkadang muncul kerenggangan-kerenggangan tapi pada dasarnya sasaran kumpulan-kumpulan yang dibentuk adalah untuk mensejahterakan semua yang terlibat dalam kumpulan tersebut atau paling tidak sedikit meringankan beban. Misalkan saja ketika mengalami sakit atau peristiwa kedukaan, ada bantuan-bantuan yang akan diberikan baik dalam bentuk materi maupun tenaga. Bukan hanya itu saja acara "Syukuran" dalam bentuk apa saja akan ada bantuan-bantuan yang akan diperoleh dan sungguh sangat membantu mereka yang membuat acara. Salah satu dampak dari terbentuknya kumpulan-kumpulan tersebut adalah saling mengenal antara keluarga satu dengan keluarga lain, antara orang satu dengan yang lain. Dan pada umumnya orang-orang yang ada di desa Teep saling mengenal. Dalam hubungan dengan apa yang diutarakan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa Mapalus/Gotong-royong/Kebersamaan sampai dengan generasi sekarang ternyata masih terus membudaya dan dapatlah dikatakan relevan dari generasi ke generasi.
ВАВ ІП
SEJARAH JEMAAT
Bapak Hermanus dan Bapak Henos adalah orang yang pertama bermukim di perkebunan Ra'ta yang kemudian dinamakan desa Teep. Kedua Bapak ini sudah menganut agama, Hermanus beragama Romus Katolik (Kristen Katolik) dan Henos beragama Protestan. Demikian halnya orang-orang yang datang kemudian, mereka juga sudah mengenal dan menganut agama yakni agama Kristen. Walaupun sudah menganut agama Kristen tetapi cara hidup dan pandangan mereka masih dipengaruhi oleh kepercayaan mula-mula yakni agama suku (Alifuru). Seperti ber-ilah pada pohon-pohon besar, tempat-tempat kramat dan binatang-binatang,
Dari waktu ke waktu orang-orang yang bermukim di perkebunan Ra'ta semakin bertambah, seiring dengan itu, maka bertambah pula warga jemaat yang ada di perkebunan Ra'ta. Pada awalnya penduduk mayoritas menganut agama Romus Katolik. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Kristen Protestan mulai sedikit menonjol dari segi kuantitas.
Pada tahun 1910 dibangunlah gedung gereja Protestan sebagai tempat ibadah. Adapun gedung gereja Protestan yang dibangun di desa Teep bukan hanya menjadi tempat ibadah orang-orang yang ada di desa Teep tetapi juga orang-orang yang berdomisili di desa tetangga yakni Simbel. Gedung gereja dibangun dengan ukuran 9x6 dari bahan kayu TADA. Gedung inipun digunakan sebagai Zending School oleh misionaris-misionaris, sekaligus sebagai penginjil yang berasal dari Barat yang disebut "Penglong" oleh orang-orang setempat, diantaranya, TEYDE, HANGTFELT, sebagai guru jemaat Cornelius, Geraldus Tangkulung yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah. Beliaulah orang pertama yang menjadi guru jemaat Teep dan Simbel dalam klasis Kakas. Masa kepemimpinannya berakhir pada tahun 1920, yang kemudian diganti oleh Bapak Arnold Kuhu...
Bapak Kuhu dengan memegang jabatan Guru Jemaat dan Kepala Sekolah kepemimpinannya berlangsung selama 11 (1921-1931)/ 14 (1921 1934) kemudian tahun 1932-1935 guru jemaat diganti oleh Welliam Koyongian yang waktu itu beliau sebagai pembantu Kepala Sekolah. Pada tahun 1934, Gereja Protestan menjadi Gereja bersinode yakni GMIM (30 September 1934), akan tetapi tidak terlepas dari GPI dengan diketuai oleh DS. E.A.A. Vreede. Dalam kepemimpinan W.Koyongian gedung Gereja dibangun menjadi semi permanen dengan ukuran 9x12 m/9x14 m. Pembangunan tersebut dilakukan pada tahun 1937 sebagai panitia Tobias Rorong, Robet Rorong, Pilep Kanter, Bastiana Sumampow dan Denan Lumintang. Tahun 1941 masyarakat Simbel yang pada waktu itu mayoritas warga GMIM bersepakat untuk berdiri sendiri menjadi jemaat GMIM Simbel dengan maksud ingin membangun gedung Gereja di desa Simbel karena gedung Gereja GMIM Pada waktu itu berdomisili di desa Teep (catatan: Sampai sekarang posisi gedung Gereja belum berpindah masih pada lokasi yang sama). Disaat warga jemaat Simbel memisahkan diri dari warga jemaat Teep ada kesepakatan yang diambil yakni mendapat inventaris seperangkat alat perjamuan dan lonceng gereja akan tetapi hal itu tidak terealisasi. Namun dalam perkembangan selanjutnya jika jemaat Simbel mengadakan perjamuan maka seperangkat alat perjamuan yang ada di Jermaat Teep dapat dipinjam oleh Jemaat Simbel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar